Diberdayakan oleh Blogger.
Terima kasih sudah
berkenan mampir
ke "rumah" sederhana ini,
Semoga dapat
memberikan manfaat..:)



RSS

[Antara Cinta dan Cita]

Hari ini adalah hari yang sangat spesial. Lho? Kenapa begitu? Karena hari ini hasil ujian perguruan tinggi negeri akan diumumkan.
Karamel sangat antusias, berkali-kali ia mengulang halaman website PTN yang diincarnya sejak lama. Satu minggu yang lalu ia mengikuti ujian dan merasa optimis. Tapi, entah kenapa hari ini ia sangat gugup dan resah. Karamel melirik jam dinding. Sudah hampir pukul dua siang kenapa hasilnya belum keluar juga? Apa jangan" sang petugas lupa mengumumkan hasilnya? Atau ada masalah dengan jaringan nya?
"El, gimana hasilnya sudah keluar?" tanya sang bunda lalu duduk disebelah putrinya itu.
"Belum bun. " jawab Karamel lesu. Bunda menatap wajah putrinya dengan khawatir.
"Kalau tidak diterima, kamu kuliah di kampus yang Ayahmu pilih ya?"
"Lhoo, bunda doain aku gagal? " jawab Karamel dengan masam.
"Bukan nya gitu, toh kita kan nggak tau apa yang akan terjadi nak." jelas Bunda lembut.
Karamel teriam. Ya. Ia tidak pernah tau apa yang akan terjadi. Selama ini ia selalu merasa optimis dan bisa mencapai keinginan nya. Masuk peringkat 5 besar, Kelas IPA dan bahkan ia memenangkan lomba cerdas cermat tingkat Provinsi. Hanya ada satu keinginannya, yaitu bisa masuk perguruan tinggi negeri favorit.
Beberapa hari lalu, Ayah dan bunda menyarankan agar Karamel masuk di Perguruan tinggi pilihan sang Ayah. Sifat keras kepala yang menurun itu menolak saran dari Ayahnya. Baginya, ini adalah pilihannya. Apalagi ia tidak tahu tentang perguruan tinggi tersebut.
Tiba-tiba sang Ayah pun ikut duduk dikursi kebangsaanya dengan koran yang tak tertinggal.
"Udah kamu masuk kampus yang Ayah  pilih aja,  toh kampus itu juga termasuk kampus terbaik di kota ini" ucap Ayah tanpa melihat pada Karamel. Karamel hanya teriam dan menghela nafasnya panjang.
"Sayang, Ayah sama B unda ingin yang terbaik buat kamu. Salah satu alasan kami ingin kamu meneruskan disini itu karena rasa khawatir pada anak satu-satunya. kamu mengerti kan sayang!!" sang bunda mencoba memberi pengertian.
"Kalo... Kalo.... " ucapan Karamel terputus untuk mengumpulkan keberaniannya
"Kalo El lulus PTN ini,  El boleh mengambilnya? " tanya El memberanikan diri. Pasalnya ini pertama kalinya El tak mengikuti perkataan orang tuanya.
Ayah memandang ke arah El yang sedang menunduk disamping bundanya. Lama tak ada jawaban dari sang Ayah membuat El semakin menundukkan kepalanya.
"Baik,  Ayah ijinkan.  Tapi kalo kamu gagal, kamu hanya punya 2 pilihan,  masuk kampus pilihan Ayah atau kamu menikah" tegas Ayah El.
Seketika El pun mengangkat kepalanya dengan tatapan yang meminta penjelasan pada sang Ayah, dan Ayah hanya membalas pandangan El sebentar lalu beranjak dari singgasananya.
"Bund,, masa El nikah?  El kan masih muda, masih banyak hal yang mau El raih bund!! " Ucap El
"Kamu tahu kan gimana Ayah kamu,  El? Ia akan teguh dengan pendiriannya" jawab Bunda. El pun kembali ke posisinya..
"Aku gak mau kuliah dikampus itu,  mau ambil jurusan apa??  Dan "NIKAH"? gak mungkin... !!!" Batin El dengan penuh rasa kesal yang tertahan.
Karamel merasa di Perguruan Tinggi yang ia pilih pasti akan membuat ia sukses dan berkembang dengan apa yang ia tekuni sampai saat ini.
Dan keyakinannya adalah ia harus bisa keluar dari zona nyamannya untuk lebih berkembang,  salah satunya hidup Mandiri, itu salah satu tujuan El ingin kuliah di Kota lain selain apa yang ia ingin raih.
***
Bahkan hingga satu jam kemuian pengumuman hasil kelulusan PTN belum keluar juga. Tingkat kewaspadaan karamel sudah masuk tahap Siaga 1, keringat dingin bercucuran di dahinya. Bayangkan saja pilihan yang diberikan oleh Ayah Bundanya jika ia tidak lulus pada pengumuman nanti. Menikah atau Kuliah di Kota ini!!
"Bagaimana El...pengumumannya sudah keluar?"
"Belum Bun...mungkin karna banyak yang sedang mencari informasi ini, jadi sangat sulit untuk di akses"
"Yaa udah...nanti kalo hasilnya sudah keluar kasi tau Ayah sama bunda yaa".
"Baik Bun...".
15 menit berlalu, dan usaha karamel untuk membuka pengumuman mulai membuahkan hasil. Dibacanya hasil pengumuman tersebut dengan teliti, hingga ditemukannya kalimat yang mengatakan seperti ini.
Anda dinyatakan tidak lulus seleksi SBMPTN 2015
Seketika itu, harapan yang sudah lama dipupuknya hancur berserakan. Bayangan akan menerima pilihan Ayah bunda sangat sulit bisa diterima.
Bagaiman jika ia harus menikah di usia muda, lalu mengurus rumah tangga yang entah akan seperti apa jadinya esok. Atau jika harus berkuliah di kota ini, jurusan apa kiranya yang harus ia ambil?
"Bagaimana El...pengumumannya sudah keluar?"
Tanpa sempat berkata, beberapa tetes air mata dengan wajah muram mungkin sudah menjadi jawaban untuk pertanyaan bundanya tersebut. Melihat situasi tersebut bunda mendekat kearah karamel dan menenangankan tangisan anaknya yang sedang pecah
"Sudah nak, Bunda tau bagaimana perasaan mu. Jangan bersedih, masih ada universitas lain. Atau nurut sama Ayah mu saja."
Setiap orang tua ingin yang terbaik bagi anaknya, begitupun orang tua karamel. Dengan adanya tanggapan Bunda karamel hanya bisa menangis. Bayangan akan keadaan selanjutnya mungkin tidak akan mengenakkan.
***
"El, karamel?" Panggil Bundanya dari meja makan. Karamel masih murung di dalam kamar, hatinya begitu sedih. Dan masih belum bisa berdamai dengan kenyataan.
Dengan langkah yang sangat lemah, ia mulai mendekati meja makan dan tepat di hadapannya, ia mendapati wajah sang Ayah yang sedari tadik mengamatinya.
"Ada apa dengan mu?" Sepontan karamel tertegak mendengar suara Ayahnya.
"Bagaimana hasil pengumumannya?" Karamel hanya bisa tertunduk menahan tangis.
"Besok pagi ikut Ayah dan jangan menolak, atau kamu malah mau menikah ?" ucap sang Ayah sembari menyodorkan brosur universitas yang telah ia tawarkan kepada putrinya jauh - jauh hari.
"Mulai lah menerima kenyataan, bahwa hal yang kita inginkan kadang tak sesui dengan apa yang kita harapkan." Sambung sang Ayah.
***
Karamel masih khusyuk dalam sujud panjangnya di sepertiga malam ini. Hatinya masih terombang ambing atas kenyataan yang ia alami saat ini.
"Ya Rabbi, El tau Engkau Maha Tahu yang tidak El ketahui sekalipun. Ya Rabb.. Ampunilah segala kesalahan yang telah El perbuat. Ya, Rabb.. kiranya berikanlah kekuatan untuk El tetap berdiri, kesabaran untuk menerima, dan keikhlasan untuk menjalankannya nanti... Ya Rabbb..." Bibirnya bergetar sampai ia tidak bisa berucap. Entah sudah berapa kali tangannya menyeka air matanya itu.
Tok tok tok. Tok tok tok. Suara pintu kamarnya yang diketok berulang ke dua kali. Seperti biasanya. El tau itu pasti bunda. Ia menghela nafas panjang. "Iya, Bunda. Setelah ini El keluar."
Sang bunda sedang menyiapkan sarapan di dapur, El sudah duduk di meja makan. Seketika itu bundanya langsung menghampiri.
"El, sarapan dulu ya sayang. Nanti Ayah menyusul. Ayah sedang ada telfon. Kita duluan saja yaa.."
"Iya, Bunda.." jawabnya dengan lirih tetapi dipaksanya untuk tetap tegar. El tetap iam dalam duduknya. Matanya menunduk sedari tadi.
"Ini.. Bunda masak sayur kesukaan kamu. Yuk, dihabiskan yaa.." Pinta sang bunda dengan senyum yang penuh lasih sayang.
Cukup lama mereka berada di sana. Sebenarnya El tidak ada selera makan pagi itu. Tetapi ia teringat Bundandanya telah memasak makanan kesukaannya. Ia tak sampai hati untuk tidak memakannya. Saat El dan Bundanya telah selesai makan, barulah sang Ayah datang.
"Wahh, rupanya Ayah sudah lama ketinggalan sarapan bersama. Ya sudah, El siap-siap dulu yaa. Tunggu Ayah di depan. Setelah Ayah selesai makan, kita langsung berangkat."
Perkataan Ayahnya seolah-olah tak dihiraukan oleh El. Ia langsung bergegas dengan setengah hati ke teras rumah. Sang Bunda langsung mengikutinya, lalu memeluk El dengan erat. Dilihatnya putri kesayangannya dalam-dalam.
"Bundaaa...?" Suaranya kini serak karena tangisnya yang tak tertahan lagi. "El sakit, Bun. El belum pernah seperti ini. Ini pertama kalinya El tidak lulus. Sulit sekali, Bun.. "
"El sayang, bismillah ya nak.. Doa Bunda selalu yang terbaik untuk El. Allah tau yang terbaik untuk El, Bunda, dan Ayah. Memang berat nak. Tapi, bismillah yaa... Kamu harus menerimanya, sayang..."
***
Karamel tak tega menolak perintah Ayahnya. Baginya sang Ayah adalah orang yang sangat ia hormati. Melalui beliau ia belajar disiplin dan kerja keras. Tapi, ia ingin memilih jalannya sendiri.
Akhirnya karamel memutuskan untuk mengikuti perintah sang Ayah tapi ia memilih jurusan sendiri.
El pun masuk ke salah satu jurusan yang menurut ia setidaknya bisa membuka wawasanya, Manajemen Informatika.
Dua bulan ia jalani dengan setengah hati. Tekanan tempat baru, tugas yang banyak dan jadwal kuliah yang ketat. Sebenarnya karamel bukan orang yang lemah. Hanya saja ia tidak memiliki gairah.
Untungnya ia memiliki seorang teman yang dengan setianya selalu menjadi tempat ia bersandar.
"El tau ga, menulis itu bisa bikin kita mencurahkan apa yang tak bisa kita ungkapkan looo, intinya bisa buat membela diri" ucap Ria sahabatnya. Seperti biasa El hanya merespon dengan senyuman dan anggukan.
"Dan di Kampus ini, terbuka banget buat potensi-potensi penulis baru. Aku yakin aku dan kamu bisa" ucap Ria lagi. Perbincangan itu pun berlalu dengan datarnya.
***
Suatu hari, karamel melihat papan pengumuman di mading kampus. Lomba menulis cerpen yang di adakan oleh club menulis. Ia teringat dengan ucapan sahabatnya.
"Kayanya apa yang Ria omongin bener deh" gumam El. Ia merasa tertarik dan mencoba mengikuti lomba tersebut.
***
Selama menulis dan merangkai kata untuk cerpennya, El berusaha menuangkan apa yang terlintas dalam imajinasinya, apa yang ia rasakan, apa yang ia dengar dan apa yang ia lihat bahkan apa yang ia alami pun ia coba tuang dalam tulisannya.
Hingga akhirnya, ia pun menuliskan cerita atas dasar apa yang ia lihat, ia rasakan dan ia alami dengan judul "Sometime You Have Accept Things, Whether You Like It Or No"
Dengan penuh perasaan ia tuangkan hingga karyanya dapat selesai tepat waktu. Kini karyanya telah sampai ke meja redaksi.
Hari demi hari berlalu, dengan penuh kesabaran ia menanti hasil pengumuman hingga akhirnya sampai pada waktu yang ditentukan.
Ia menatap mading penuh harap,  dan mengeja huruf demi huruf nama yang terukir dikertas itu,
Pemenang Lomba Menulis Cerpen Diraih Oleh KARAMEL Dengan Judul Sometime You Have Accept Things Whether You Like It Or No"

Tak percaya dengan apa yang ia baca, hingga akhirnya ia mendapat tepukan meriah dari teman temannya dan ucapan selamat, yang kemudian baru membuatnya sadar dari lamunannya.
"El.. Selamat ya" ucap Ria
"Aku menang? "tanya El masih kurang percaya
"Iya kamu menang El, dan aku cukup iri dengan kemenanganmu, tapi karna kamu sahabat terbaikku, aku ikhlas kok. Sekali lagi selamat El..." ucap Ria seraya merentangkan tangannya yang disambut oleh El dengan pelukan hangat antar sahabat.
Setelah kemenangnya, El mendapat kesempatan untuk mengikuti Class Exclusive dalam bidang menulis.
***

2 Tahun kemudian.
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, tanpa Karamel sadari ternyata sekarang ia sudah menjadi penulis terkenal. Beberapa buku karangannya sudah berderet rapi di rak-rak toko buku ternama.
Disela-sela waktu luangya, kembali ia renungkan akan kisah hidupnya.
Mulai dari ketidak lulusannya di PTN Favorit yang sudah lama ia incar, perintah orang tuanya yang mengharuskan kuliah di kota sendiri, persahabatnnya dengan Ria, perlombaan menulis yang ia menangi, dan ketekunanya mengikuti kelas menulis eksklusif, yang akhirnya dapat mengantarnya menjadi penulis terkenal seperti saat ini.
Judul pertama pada saat mengikuti perlombaan menulis dulu, rupanya benar-benar ia aplikasikan pada kehidupannya saat ini bahwa "Sometime You Have Accept Things Whether You Like It Or No"


~TAMAT~


NB : Cerita di atas merupakan hasil karya dari Saya bersama tim yakni RaniaAlattas , Elisa_spc, Alfa dan Rohasanahmyhas. saat mengikuti Game "Kereta Kata" selama kelas Nulisyuk Bacth 1 berlangsung pada tanggal 2 juni 2017. Semoga dapat memberikan manfaat, terima kasih :) 
#Keretakata #Nulisyuk #NulisRandom2017

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar