Diberdayakan oleh Blogger.
Terima kasih sudah
berkenan mampir
ke "rumah" sederhana ini,
Semoga dapat
memberikan manfaat..:)



RSS
Tampilkan postingan dengan label Ruang Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruang Cerita. Tampilkan semua postingan

[Jangan-jangan Rinduku Palsu]

Katanya obat dari merindu adalah bertemu. Bener gitu nggak ? Saya sendiri ikut setuju aja deh.

Kalau sedang merindukan teman saya biasanya gitu. Usahakan sebisa mungkin untuk ketemu langsung biar bisa berbagi kisah sepuasnya. Walaupun mungkin melihat situasi seperti sekarang jadi agak sulit bersua.

Disituasi yang normal, saat temu sudah direncanakan, rindu kan segera terbayar, membayangkan menanti hari H aja sudah bahagia. Terlebih saat benar-benar terealisasi tanpa sekadar wacana. Paket komplit.

Naah...situasi rindu seperti ini sempat terpikirkan saat Allah beri kesempatan untuk berjumpa dengan Ramadhan tahun ini.

Beberapa hari menjelang Ramadhan saya cukup antusias turut serta menyambut Ramadhan misal dengan buat story H-5 Ramadhan, H-3 Ramadhan, H-1 Ramadhan dan Marhaban Yaa Ramadhan. Saat itu, ada perasaan rindu dan tak sabar berjumpa dengan Ramadhan. Plan A - Z udah disiapkan, walaupun masih belum matang banget.

Tapiii.. setelah sudah memasuki pertengahan Ramadhan, kok jadi seperti meragukan diri yaa "Jangan-jangan rindu saya pada Ramadhan palsu...!! Astagfirullah..."

Kenapa bisa kepikiran begitu ? Karena merasa ibadah selama Ramadhan sampai hari ini seperti masih belum ada apa-apanya. Kayak masih sama aja kayak bulan-bulan sebelumnya. Seperti belum ada goals yang bikin gregetan untuk diraih. Terus  besok waktu Ramadhan beneran udah berlalu, baru mikir ulang sambil nyesel "Ramadhan kemarin udah ngapain aja yak...?" Aah...dasar saya...!!

Padahal kan nggak boleh gitu....

Yuk ah...masih ada setengah bulan lagi. Masih ada kesempatan memaksimalkan membayar rindu, mumpung sedang bertemu.

Semoga tidak disia-siakan begitu aja.

NB : Pikiran acak sebelum tidur

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

[Perasaan yang Menemukan Jawabannya]

Terlepas bahwa semua ini adalah takdir, tiba-tiba jadi inget, tahun lalu sempat dibuat mikir dan punya feeling atau dugaan tahun ini gak bisa mudik sama sekali entah karena alasan apa.

Tahun lalu itu kayak sejarah penting banget karena bisa bolak balik mudik (Lombok-Bima) sampai 3x (Libur idul Fitri, Libur naik sekolah, dan Libur idul adha). Merasa karena tahun sebelumnya jarang bisa ikut akhirnya baru terbayar tahun lalu dan sekaligus jadi mikir, "Barangkali tahun itu bisa mudik sepuasnya justru untuk kali terakhir."

Waktu itu tiap diajak mudik ayok aja, karena sempat mikir kayak di awal tadi "Tahun depan kayaknya nggak bisa ikut mudik deh"
Terus baru keinget tadi "Iya yaa.... sepertinya tahun ini emang nggak bisa mudik sama sekali (Wallahu'alam) padahal pengen banget. Salah satunya karena pengen naik kapal...hihi"

Gak pernah kebayang alesan nggak bisa mudik karena adanya pandemi Corona. Justru waktu itu yang buat saya kebayang nggak bisa mudik karena bakal nikah dan jodohnya bukan dari Bima seperti kasusnya Kakak kedua...hahaha
Oke abaikan...

Mungkin ini masih terlalu awal menyatakan diri bahwa tahun ini nggak bakal bisa mudik sama sekali, padahal masih tersisa 7 bulan lagi untuk tahun ini dan itu lumayan lama. Masa depan masih menjadi rahasia-Nya bukan ?

Tapi yaa, begitulah...saya kan hanya menyatakan perasaan saya yang dulu dan seperti sedang mendapat jawabannya aja.

Kadang rahasia langit memang nggak bisa diterka jawabannya saat itu juga, bisa jadi berbulan-bulan atau bertahun-tahun lamanya baru ketemu.

Jadi, sejak saat itu saya sendiri tiap punya feeling atau rasa penasaran kebanyakan sering ditampung sampai Allah kasih pentunjuk untuk menemukan jawabannya.

Selamat menemukan jawaban dari tiap perasaan dan atau rasa penasaran yang masih menjadi misteri.

NB : Pikiran acak sebelum tidur.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

[Sebelum Berakhir]

Halloo...
Waah...rasanya sudah lama sekali tak berbagi tulisan di rumah lama saya ini, jadi rindu. 
Sebenarnya ada banyak kisah yang ingin saya bagikan, namun tak sempat juga terealisasi. 
Tapi baiklah...sebelum tahun 2019 berakhir, mungkin akan ada beberapa cerita yang sekiranya dapat melengkapi daftar arsip tulisan untuk tahun ini.


Hmmm...mau mulai dari mana yaa ?
Waah..ternyata untuk memulai menulis saja saya bingung.
Baiklah mungkin saya akan coba menyusunnya terlebih dahulu di catatan pribadi, sebelum membagikannya di sini.

Jika tidak ada halangan, InsyaAllah akan ada 4-5 cerita saya bagikan di blog ini, itu jika benar-benar bisa direalisasikan.

Harap sabar menunggu yaa....

Eh tapi...biar gak terlalu kosong banget, sini saya hidangkan salah satu puisi usang yang sudah lama mengendap dalam notebook dari tahun lalu, berikut isinya :



"Sebentar Saja..."

Sebentar...sebentar saja...
Izinkan tubuh ini mendapatkan haknya beristirahat
Dari pagi hingga petang hari,
ia sudah dipaksa bekerja sana sini

Sebentar...sebentar saja
Izinkan tubuh ini memasok oksigen sebanyak-banyaknya
Untuk memulihkan sesak secara perlahan
Menghilangkan penat di hati

Sebentar....sebentar saja
Izinkan tubuh ini sembuh
Sembuh dari sakit lahir dan batinnya
Atas masalah yang tiada henti menempanya

Sebentar....sebentar saja...
Izinkan mata ini mengeluarkan sedu sedannya
Untuk memuntahkan segala keluhan yang tak dapat keluar melalui bibir
Sebagai titik akhir dari ketidakberdayaannya
Sungguh, hanya sebentar..sebentar saja

Lombok, 15 Mei 2018

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

[Tentang Rasa]

"Sama halnya dengan kehidupan, sebagaimanapun kau mencoba mengatur hidupmu agar tampak sempurna tanpa ada cacat sedikitpun, pasti akan kau alami yang namanya manis serta pahitnya kehidupan"
Ini tak seperti biasanya. 
Ada yang kurang beres !! 
Seperti ada rasa yang tak sesuai dengan jalurnya.
Kucoba kembali memantapkan kejelasan atas rasa aneh ini. 
Sekali...dua kali...tiga kali...
Masih tidak memiliki kejelasan rasa yang pas.
Rasa bingung mulai menyergap.
Kemudian kumulai bertanya-tanya pada diri, 
Dimanakah letak kesalahannya..??
Apakah di Subjek, Predikat atau Objek ? 
Tak ambil pusing ... satu keputusan ku ambil secara acak.
Sedikit demi sedikit, 
kucoba menambahkan gula pasir..."Kok jadi terlalu manis?"
Ku Tambahkan sesendok kopi..."Hmmm..Masih kurang jelas ",
Lalu kutambahkan lagi air..."waah jadi ke enceran.."
Akhirnya aku pun mulai pasrah.
Dalam hati kecilku berbisik.."Sajikan saja apa adanya, Tuan besar tak akan marah..."
Baiklah....
Saat secangkir kopi sudah tersaji dan siap diminum,
Takut-takut ku intip dari balik pintu kamar. 
Ada keryitan kecil muncul di dahinya.
Lalu perlahan-lahan menghilang menjadi datar.
Malu-malu ku tanyakan pada beliau,
"Bagaimanakah rasa kopi yang ku sajikan, terasa aneh kah ? ", 
"Hmmm..." beliau diam sejenak, menyisakan aku yang menahan nafas.
"Enak...rasanya pas.." seketika seperti jutaan beban di pundak terangkat, nafasku pun kembali normal.
"Jangan berbohong tuan, atau jangan-jangan Anda sengaja agar aku merasa bahagia? " tanyaku memastikan. 
"Tidak...ini memang terasa seperti kopi pada umumnya Nak...bagaimanapun kau meraciknya, pasti akan ada rasa manis dan pahit yang menyatu menjadi satu. Sama halnya dengan kehidupan, sebagaimanapun kau mencoba mengatur hidupmu agar tampak sempurna tanpa ada cacat sedikitpun, pasti akan kau alami yang namanya manis serta pahitnya kehidupan. Tak perlu kau memaksakan diri untuk memahaminya sekarang. Karna seiring berjalannya waktu, selama Bumi masih diputar pada porosnya, kau akan nikmati juga tiap rasa manis serta pahit tersebut". (The End)
_
Selamat beraktivitas, jangan lupa awali dengan Bismillah agar hidup menjadi Berkah. 😃#justwrite #mystory #secangkirkopiuntukBapak #NulisRandom2017

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

[Allah Maha Mengetahui Setiap Keinginan Hambanya]

“Para penghafal al-qur’an atau pecinta al-qur'an itu apa saja yang di inginkannya pasti terkabul, bahkan sebelum ia sempat menyampaikan keinginan dalam hati melalui bibirnya sendiri”
Sekitar 7 tahun lalu, salah satu ustazah pernah becerita kepada saya dan teman-teman mengenai keistimewaan para penghafal al-qur’an atau yang suka membacanya. Sebelum mulai bercerita beliau menegaskan kepada kami bahwa “Para penghafal al-qur’an atau pecinta al-qur'an itu apa saja yang di inginkannya pasti terkabul, bahkan sebelum ia sempat menyampaikan keinginan dalam hati melalui bibirnya sendiri”.
Masih dalam suasana sekitar 7 tahun tersebut ustazah kami mulai bercerita.
“Keluarga Umun* termasuk  keluarga yang berpengahsilan pas-pasan, untuk bisa membeli makanan dan kebutuhan sehari-haripun kami sudah sangat bersyukur. Melihat situasi keluarga seperti itu, Umun dan saudara-saudara yang lain sadar betul bahwa untuk meminta ini itu tidaklah mungkin adanya, karna itu sama saja membebani pikiran orang tua kami.
Saat Umun masih menjadi santriwati, setiap hari orang tua Umun selalu mengantarkan nasi dengan tambahan lauk ala kadarnya saja, dan Umun merasa cukup akan hal itu. Begitu seterusnya tiap tiga kali dalam sehari. Hingga di suatu hari Umun sangaaat ingin sekali makan bubur kacang hijau sebagai hidangan untuk buka puasa, intinya benar-benar sangat ingin bubur kacang ijo.  Aah...tapi itu hanya sekedar keinginan yang tidak ajan diutarakan kepada orang tua Umun, kenapa? Alasannya seperti yang kalian tahu sendiri, ekonomi keluarga saat itu tidak mendukung, jadi tinggalag bubur kacang ijo menjadi keinginan yang hanya bisa diutarakan di dalam hati saja.
Hari itu, ketika sebentar lagi azan berkumandang menandakan waktu berbuka sudah mulai tiba, seperti biasa orang tua Umun datang membawakan nasi karna tau bahwa Umun sedang berpuasa. Jika biasanya dalam kantong plastik isinya hanya satu bungkus nasi, entah kenapa untuk saat ini seperti ada yang berbeda, terasa lebih berat. Ketika Umun buka ikatan plastik ternyata di dalamnya sudah ada sebungkus nasi ditambah satu bungkusan lagi berupa bubur kacang ijo yang masih hangat. Dalam hati Umun hanya bisa berucap syukur sebanyak-banyaknya, tak tahu ingin berkata apa rasa haru tiba-tiba menjelma dalam diri. Kata orang tua Umun, bubur kacang ijonya merupakan pemberian tetangga untuk keluarga dirumah, tapi karna diingatnya Umun yang sedang berpuasa, maka diantarah sebagain dari bubur itu ke Pondok.”
Subhanallah....itu merupakan salah satu kisah inspiratif yang pernah saya langsung dari pembimbing tahfiz semasa di Pondok dulu, dan ini menjadi salah satu alasan saya ntuk lebih semangat lagi dalam menghafal al-qur’an.
Tapi ini kisah sekitar 7 tahun lalu kawan, ketika saya sedang duduk di bangku kelas dua tsanawiyyah dan semangat menghafal al-qur’an sedang berada di puncak-puncaknya. Tahun demi tahun silih berganti, jumlah hafalan yang saya milikipun hanya sedikit yang bertambah. Hingga tamat dari Pondok pun masih belum bisa mengalami penambahan secara signifikan. Sadar akan hal tersebut maka sayapun bernazar dalam hati, “jika saya kuliah di Lombok, maka saya akan tetap pergi setor hafalan ke Pondok”. Satu tahun pertama kelulusan, rupanya itu hanya sekedar nazar palsu, karna buktinya saya tak pernah hadir. Memasuki tahun kedua saya mulai merasa seperti ada yang mengganjal dalam hati karna terbanyang akan nazar tersebut, maka saya mencoba menghubungi kembali ustazah pembimbing tahfiz di podok dulu dan alhamdulillah beliau berlapang hati memberitahukan saya jadwal tahfiz. Mulai dari saat itu saya kembali melengkapi beberapa hafalan yang masih tertinggal di Pondok dulu. Tapi ini pun tidak berlangsung lama teman, hanya sekitar dua atau tiga bulan saya kembali tidak menyetor, dengan berbagai macam alasan. Begitu seterusnya hadir satu kali sebulan kemudian tidak hadir berbula-bulan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

[Antara Cinta dan Cita]

Hari ini adalah hari yang sangat spesial. Lho? Kenapa begitu? Karena hari ini hasil ujian perguruan tinggi negeri akan diumumkan.
Karamel sangat antusias, berkali-kali ia mengulang halaman website PTN yang diincarnya sejak lama. Satu minggu yang lalu ia mengikuti ujian dan merasa optimis. Tapi, entah kenapa hari ini ia sangat gugup dan resah. Karamel melirik jam dinding. Sudah hampir pukul dua siang kenapa hasilnya belum keluar juga? Apa jangan" sang petugas lupa mengumumkan hasilnya? Atau ada masalah dengan jaringan nya?
"El, gimana hasilnya sudah keluar?" tanya sang bunda lalu duduk disebelah putrinya itu.
"Belum bun. " jawab Karamel lesu. Bunda menatap wajah putrinya dengan khawatir.
"Kalau tidak diterima, kamu kuliah di kampus yang Ayahmu pilih ya?"
"Lhoo, bunda doain aku gagal? " jawab Karamel dengan masam.
"Bukan nya gitu, toh kita kan nggak tau apa yang akan terjadi nak." jelas Bunda lembut.
Karamel teriam. Ya. Ia tidak pernah tau apa yang akan terjadi. Selama ini ia selalu merasa optimis dan bisa mencapai keinginan nya. Masuk peringkat 5 besar, Kelas IPA dan bahkan ia memenangkan lomba cerdas cermat tingkat Provinsi. Hanya ada satu keinginannya, yaitu bisa masuk perguruan tinggi negeri favorit.
Beberapa hari lalu, Ayah dan bunda menyarankan agar Karamel masuk di Perguruan tinggi pilihan sang Ayah. Sifat keras kepala yang menurun itu menolak saran dari Ayahnya. Baginya, ini adalah pilihannya. Apalagi ia tidak tahu tentang perguruan tinggi tersebut.
Tiba-tiba sang Ayah pun ikut duduk dikursi kebangsaanya dengan koran yang tak tertinggal.
"Udah kamu masuk kampus yang Ayah  pilih aja,  toh kampus itu juga termasuk kampus terbaik di kota ini" ucap Ayah tanpa melihat pada Karamel. Karamel hanya teriam dan menghela nafasnya panjang.
"Sayang, Ayah sama B unda ingin yang terbaik buat kamu. Salah satu alasan kami ingin kamu meneruskan disini itu karena rasa khawatir pada anak satu-satunya. kamu mengerti kan sayang!!" sang bunda mencoba memberi pengertian.
"Kalo... Kalo.... " ucapan Karamel terputus untuk mengumpulkan keberaniannya
"Kalo El lulus PTN ini,  El boleh mengambilnya? " tanya El memberanikan diri. Pasalnya ini pertama kalinya El tak mengikuti perkataan orang tuanya.
Ayah memandang ke arah El yang sedang menunduk disamping bundanya. Lama tak ada jawaban dari sang Ayah membuat El semakin menundukkan kepalanya.
"Baik,  Ayah ijinkan.  Tapi kalo kamu gagal, kamu hanya punya 2 pilihan,  masuk kampus pilihan Ayah atau kamu menikah" tegas Ayah El.
Seketika El pun mengangkat kepalanya dengan tatapan yang meminta penjelasan pada sang Ayah, dan Ayah hanya membalas pandangan El sebentar lalu beranjak dari singgasananya.
"Bund,, masa El nikah?  El kan masih muda, masih banyak hal yang mau El raih bund!! " Ucap El
"Kamu tahu kan gimana Ayah kamu,  El? Ia akan teguh dengan pendiriannya" jawab Bunda. El pun kembali ke posisinya..

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

[Kisah Ukasyah dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wassallam]

(Jika sudah pernah baca, anggaplah sebagai pengingat)

Assalamualaikum..
Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah SAW sebelum wafat.

Rasulullah SAW telah jatuh sakit agak lama, sehingga kondisi beliau sangat lemah.

Pada suatu hari Rasulullah SAW meminta Bilal memanggil semua sahabat datang ke Masjid. Tidak lama, penuhlah Masjid dengan para sahabat. Semuanya merasa rindu setelah agak lama tidak mendapat taushiyah dari Rasulullah SAW.

Beliau duduk dengan lemah di atas mimbar. Wajahnya terlihat pucat, menahan sakit yang tengah dideritanya.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Wahai sahabat2 ku semua. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kepadamu, bahwa sesungguhnya Allah SWT itu adalah satu-satunya Tuhan yang layak di sembah?"

Semua sahabat menjawab dengan suara bersemangat, " Benar wahai Rasulullah, Engkau telah sampaikan kepada kami bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah."

Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada mereka."

Kemudian Rasulullah bersabda lagi, dan setiap apa yang Rasulullah sabdakan selalu dibenarkan oleh para sahabat.

Akhirnya sampailah kepada satu pertanyaan yang menjadikan para sahabat sedih dan terharu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

[Kami Menyebutnya, "Raport Murni" !!]



Jika dibandingkan dengan semua raport hasil belajar yang pernah Saya dapat hingga sekarang, Raport murni ini berada dikedudukan pertama yang Saya banggakan dari semua raport yang Saya miliki.  

Tadi sore, disaat langit menurunkan limpahan airnya secara syahdu dari atas sana, tiba-tiba saja ada keinginan kuat yang menarik diri untuk membuka kembali tiap halaman dalam raport yang bersampulkan warna hijau ini. Niat awalnya hanya ingin melihat wajah Saya 8 tahun silam pada foto ukuran 3x4 dengan berlatarkan kain berwarna merah. Dalam hati Saya cukup berani mengakui jika ternyata dahulu,DELAPAN TAHUN SILAM, Saya cukup terlihat “imut” dengan pipi tembam dan wajah polos dengan kerudung putihnya yang jika dibandingkan sekarang, mungkin terlihat “Amit-amit”...Hehehe (Apapun keadaanya harus tetap bersyukur Miiie’...”Alhamdulillah”..). Abaikan hal ini karna ini hanya sebagai cerita pembuka yang ibaratnya dalam sebuah penyajian hidangan disebut Appetizer.
Kemudian berlanjut kehalaman berikutnya, tampaklah beberapa nilai yang disejajarkan dengan mata pelajaran yang kami dapatkan saat itu. Dengan cermat Saya memerhatikan kembali tiap nilai yang Saya dapatkan dan tak jarang menertawakan diri sendiri jika disana tertera nilai yang sangat tak enak dipandang.
“Kok bisa yaa dulu Ami’ dapet segitu...?? Oooh pantes...dulu guru yang ngajarinnya emang terlalu “pintar” saat jelasin, makanya dapet sedikit”, alasan berkilah pertama. (Maafkan santrimu ini Ustaz maupun Ustazah bener-bener gak bermaksud menyalahkan Antum kok ).
“Lah yang ini kok bisa dapet sedikit..?” Lihat mata pelajarnnya “Ooohh..pantes dapet sedikit, dulu soal ujiannya emang terlalu sulit bagi Ami’, wajarlah dapet sedikit..bukan masalah...” Alasan berkilah kedua.
“Perasaan di pelajaran ini, Ustaz atau Ustazahnya bagus deh cara jelasinnya, soal yang dikeluarin saat ujian juga gak terlalu sulit...kok bisa yaa dapet sedikit ?“, setelah mikir-mikir “Oooh..wajar dapet sedikit....di semester ini emang semangat belajarnya Ami’ kurang dulu..alias malas...jadi maklum dapet sedikit..” Alasan berkilah ketiga, dan itulah faktanya.
Begitu pula jika melihat beberapa nilai dihalaman-halaman berikutnya, selalu Saya sertakan berbagai alasan berkilah lainnya...
”Oooh..wajar dapet banyak ni, guru yang ngajarinnya emang top markotop dulu waktu jelasin”,
”Kalo gak salah, dulu soal ujian di mata pelajaran ini emang mudah-mudah, karna guru yang ajarin terkenal pemurah, jadi wajar dapet banyak..”, atau alasan lainnya...
“Ami’ inget dulu..dipelajaran ini emang bener-bener serius Ami’ pelajari dan pahami...jadinya wajar mungkin dapet banyak, Alhamdulillah”.
Di raport ini, semua tertulis sesuai dengan jumlah nilai yang kami dapatkan pada hasil ujian semester akhir, tanpa ada penambahan atau pengurangan sedikitpun. Sehingga kamipun menyebutnya “Raport Murni”. Tak jarang beberapa dari kami menganggapnya sebagai tolak ukur atas kepintaran seseorang, karna sifatnya yang murni tersebut. Walau pada hakikatnya, tidak selamanya sebuah nilai bisa dijadikan tolak ukur kepintaran seseorang bukan ?.
Sebagaian besar, setamat kami dari Pondok dan melanjutkan jenjang pendidikan ke beberapa perguruan tinggi negeri lainnya, nilai-nilai yang tertera dalam raport murni ini tidak dilampirkan saat mendaftar karna mungkin sifatnya yang informal di pandangan Dinas Pendidikan Negara. Tapi jujur, jika dibandingkan dengan semua raport hasil belajar yang pernah Saya dapat hingga sekarang, Raport murni ini berada dikedudukan pertama yang Saya banggakan dari semua raport yang Saya miliki.  
Setelah selesai mencermati setiap nilai yang tertulis di dalam Raport Murni ini, Saya kemudian mulai merenungi kembali tiap mata pelajaran yang Saya pelajari dulu, baik yang bernilaikan sedikit, terlebih yang sempurna (100). Mungkin karna dulu obsesi belajarnya adalah biar bisa mendapatkan nilai tinggi dan peringkat kelas, maka ketika mendapat nilai sedikit merasa sedih dan ketika mendapat nilai banyak/sempurna merasa bangga. Tapi sekarang, setelah melewati beberapa perenungan tadi, tanpa permisi munculah beberapa pertanyaan ini...
“Apakah pelajaran yang dulu kamu pelajari  berkah Miie’...?”,
“Bagaimana caramu mempertanggung jawabkan nilai-nilaimu tersebut ? Bukankah tujuan dari belajar adalah agar mendapatkan ilmu yang berkah atau yang dapat memberikanmu sebuah manfaat baik untuk diri sendiri maupun orang lain ?”,
“Apakah sudah kau terapkan beberapa pelajaran (terlebih pelajaran agama) dulu sekeluarmu dari Pondok dalam kehidupanmu sehari-hari ini ?”, atau
“Tinggal berapa baris ilmu yang masih kau ingat dalam pelajaran-pelajaran tersebut ?”.
Hey..apakah hanya Saya seorang yang menganggap pertanyaan-pertanyaan dingin tersebut sangat menakutkan dan telak membuat Saya hanyut dalam keterdiaman yang menyiksa ? Tolong bantu Saya menjawab sekiranya jawaban apa yang harus Saya berikan, karna rasanya bibir ini sudah tak mampu menjalankan fungsinya dengan baik untuk mengeluarkan beberapa patah kata.
Oke sebagai penutup agar tak terlalu berlarut pada kisah ini, mungkin Saya akan mengutip salah satu quote favorit dari Bang Tere...
“ Masa lalu tidak akan pernah menang,karena dia selalu ada dibelakang”.  
Faktanya sampai kapan pun, Saya tidak akan bisa memperbaiki masa lalu Saya yang salah niat  saat belajar dulu, maka sebagai penebusnya, mungkin..eh bukan mungkin, tapi memang harus !! (kudu pake wajib) mulai saat ini, Saya harus  mulai membenahi diri, menegur diri untuk selalu memasang niat yang benar ketika mulai belajar, dan dengan kesempatan yang masih ada ini akan mencoba untuk mengulang kembali beberapa pelajaran yang Saya dapatkan di Pondok maupun Instistusi tempat Saya melanjutkan pendidikan sekarang, agar keberkahan dari ilmu – ilmu tersebut bisa Saya nikmati dengan senyuman merekah. Aaamiiinnn...

NB : Bagi para Alumni yang masih menyimpan Raport Murni ini atau siapa saja yang memiliki Raport dan sebangsanganya yang disana tertera nilai-nilai dari hasil “belajar”, mungkin ada baiknya Anda mencoba membuka kembali tiap halamannya dan melihat di mata pelajaran apa saja Anda mendapatkan nilai ter-rendah, tinggi ataupun sempuna. Jika Anda memiliki perenungan yang sama dengan Saya, Apakah masih bisa Anda pertanggung jawabkan nilai-nilai tersebut hingga saat ini ?.

Minggu, 11 Desember 2016 (Pukul 00:06)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

[Tawa yang Tidak Akan Terlupa]



Malam ini cukup heboh dengan suara gelak tawa kami, terutama bapak yang biasanya sedikit jaga imej tumben – tumbennya bisa ketawa sampai  hampir terlihat semua giginya. Berawal  pada saat kami sedang makan malam dan menonton acara “Mata Najwa”  yang membahas film “Surat Dari Praha” _ yang akan mulai tayang besok di seluruh bioskop Indonesia (promosi sedikit).
Secara singkat film ini diangkat dari kisah nyata beberapa tokoh yang di latar belakangi akan kejadian di masa orde baru dulu. Membahas ini berlanjut dengan pembicaran kami (Bapak, Saya dan Adek Icha) mengenai  kejadian Tritura,  G30S/PKI, Komunis, Zaman Orde Baru, Proklamasi dan Keukuhan saya agar dapat izin menonton filmnya besok.
Membahas  Tritura, awalnya yang ditanya oleh bapak adalah kepanjangan dari tritura saja yang seinget saya pokoknya ada istilah “penuntutan” sama terdiri dari tiga peryataan didalamnya,  sedangkan adek icha udah pasrah gak bisa jawab karna lupa. Alhasil kami pun dapat sindiran halus, sehalus kain sutra “ tuu kaaaan karna jarang baca buku tapi rajin maen Hp sama leptop siih...!!”. Saya sama adek icha pun gak mau kalah sama bapak, kami berdua melakukan pembelaan dengan mengatakan bahwa karna bapak jadi guru PKn lah makanya tau kepanjangan Tritura, pelajaran PKn kan bersaudara dengan pelajaran Sejarah, iya gak..? (iya iyain daah.. J ). Mendengar pembelaan Kami akhirnya bapak pun memberitahukan kepanjangan Tritura yakni Tiga Tuntutan Rakyat dan apa saja isi dari peryataan tersebut. Setelah mangguk-mangguk tanda paham kami, pembicaraan berlanjut membahas mengenai kejadian G30S/PKI, Komunis, dan Zaman Orde, yang kita skip saja karna terlalu panjang jika saya ingin mengetiknya disini.
Akhirnya  gak tau dari mana tiba – tiba pembicaraannya berlanjut mengenai isi dari proklamasi. Kami bertiga (saya mama’ dan adek icha) di tes, awalnya kami mah jawabnya bareng  tapi karna masih belum tepat akhirnya di tes satu-satu. Giliran pertama di mulai dari Mama’...
“PROKLAMASI...Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia ialah hak segala  SEGALA BANGSA dan oleh sebab itu penjajahan di atas Dunia...” ( hening sejenak) saya bapak sama dek icha yang menyimak dengan serius  dari awal langsung ketawa cekikikan..(terlebih bapak yaa...tumben liat beliau ketawa sampe sakit perut mungkin efek baru selese makan kali yaa..)
Di sela-sela tawa saya pun bertanya “kok larinya ke isi Pembukaan UUD  45 Maa’  ?? “ dan akhirnya Mama pun ikut ketawa cekikikan.
Kemudian berlanjut ke giliran saya sama adek icha yang jawaban kami pun masih dianggap belum pas, malaupun gak semelenceng jawaban mama’ diatas  (hahaha..disini gak ada unsur menjelekkan nama mama saya yaa...ini Cuma bentuk spontanitas kami sekeluarga untuk ketawa). Sampai akhirnya  sama seperti Tritura tadi, Bapak pun  memberi tahu isi Proklamasi secara lengkap dan akurat tanpa ada kesalahan sedikitpun (Maklum Guru PKn..ekhem..). karna tadi  masih belum lengkap akhirnya kami di tes ulang dan hasilnya cukup bagus lah...terutama adek icha yang bisa ikutin jawaban bapak secara akurat walau ada kurang satu atau dua kata. Kalo saya pribadi karna udah capek ketawa hanya bisa bilang “sama kayak jawabannya Icha Pak, Ami Copast aja..hehehe “.
Lalu bagaimana dengan mama’ saya tercinta..beliau jangan ditanya lagi..soalnya sudah dengan manisnya beliau tidur di pangkuan bapak dan menganggap tawa kami tadi sekedar angin lalu.
Kambali ke masalah minta izin untuk nonton besok yang awalnya gak di izinin, kemudian kalo mau nonton harus baca dulu buku-buku  mengenai G30S/PKI , pemerintahan di  Zaman Orde Baru kemudian coba nonton Vidio amatirnya (yang sebenernya beliau sambil menyarankan baca buku-buku  tsb, beliau juga menceritakan beberapa inti kejadian didalamnya, jadi secara tak langsung tanpa harus membaca saya cukup tau laah, besok kalo ada waktu luang baru coba cari reverensinya J ), hingga akhirnya dapet juga lampu hijau untuk nonton besok...asyeek...
Disini Manusia hanya bisa berencana..tapi tetap dan tak bisa di ganggu gugat bahwasannya Allah lah yang akan menjadi penentu..jadi atau gak jadinya...

By : Umara’ Nur Rahmi
Ditulis dari pukul 11:45 PM sampai 00:51 AM (27-01-2016 s/d 28-01-2016)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS